Ayo Naik Bahteraku!!!


.Kala itu. hanya kita berdua, duduk dan menanti sambil menatap langit tanpa berucap…kita bagai orang yang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Kita termenung melihat orang lain, mereka terlihat bergegas akan berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia.

Aku bertanya dalam diriku ..”Dimana kita?”


Sementara waktu telah berjalan begitu cepat, menghitung sisa hari seperti ketukan detik jam yang melekat pada bom waktu, dan itu artinya setiap orang di pulau harus bergegas mempersiapkan bekal sebelum akhirnya kapal besar itu berangkat meninggalkan pulau, sebelum kelak usia rapuh dalam kesendirian yang maha sepi. Mereka akan berbondong-bondong menuju negeri cahaya, membangun rumah, menikah dan melahirkan anak-anak yang akan melanjutkan sejarah dan silsilah.

Bagiku cahaya masa depan adalah kota harapan, tempat kebahagiaan dirumuskan dengan sempurna, kenikmatan dunia yang memanjakan raga dan jiwa. Tapi muncul lagi gemuruh dari hatiku…
Dimakah kita?
Akankan kita terlambat mengejar laju waktu?

Aku merasa seakan jurang ada diantara kita padahal kita dekat kala itu. Sebenarnya betapa ingin aku memahami ombak dengan biduk kecil bersamanya, dialah perempuan yang berwajah lembut dan bersuara merdu ketika menerjemahkan puisi dan kehidupan. Betapa ingin aku menyentuh cahaya masa depan dengannya, dialah perempuan yang punya jemari yang halus ketika menulis suara malam dan isi hatinya. Bayangannya berkali-kali hadir, meliuk melahirkan suara yang manja pada ruang jiwaku. Tapi apakah hidup dan cita-cita bisa diselesaikan hanya dengan sebaris impian? Rasa takut seperti bahasa maut di urat leher sang pengecut. Aku berselisih dengan bayanganku sendiri. Harapan dan kenyataan saling bersahutan, menghibur sekaligus mencemoohku, membangkitkan dan menindihku.

Perempuan dalam bayangan, wajah yang rekah dalam kata dan pinta. Ia bergumam pelan dalam khayalan “Hari-hariku akan terbuang dan melelahkan jika aku menunggu dan menemannya di sini” oh perih hatiku kala itu. Bahkan sempat aku berkata “Dinda kamu punya hak untuk berangkat lebih awal”.
Dia tergoda jurik laknat wewdew.. tapi ah, aku menyayanginya, itulah sebabnya aku akan merelakan ia berangkat kali ini, menuju tanah kebahagiaan. Kebahagiiaannya adalah kebahagiaanku.
Aku terpejam dalam diam, memilah jiwa dari rasa kecewa, menguatkan hati, bahwa kehidupan akan mengajarkan manusia untuk siap menerima kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai. Pada letihku tetap tumbuh sang kekasih. Aku tersenyum menerjemahkan bayangan wajahnya pada warna langit. Aroma kenangan mulai tercium pada harum hujan dan coba ku rangkai senyumnya yang ranum pada doa-doa dan dalam cuaca.

Surabaya 10 Feb 2009, merelakanmu