PARADE CEMAS


Dini hari itu gerimis turun perlahan, Aku lihat sebuah mobil tua https://menantihujan.wordpress.commemasuki halaman rumah sakit. Dalam gerak yang ringkas, dari pintu belakang mobil seorang lelaki turun. Seorang perempuan muda, berumur sekitar 20 tahunan, muncul dengan muka penuh keringat. Ia sempat terhuyung sebelum dua orang petugas rumah sakit dengan sigap membopong dan menaikkannya ke ranjang beroda yang sudah disiapkan. Dengan bergegas petugas membawanya masuk menuju Instalasi Gawat  Darurat (IGD) .

Rupanya mereka sepasang suami istri yang akan segera memiliki seorang anak karena sang istri tampak akan segera melahirkan. Hari ini merupakan kali ketiga pasangan tersebut datang kerumah sakit, karena pada beberapa kesempatan  sebelumnya mereka disarankan untuk pulang karena menurut dokter proses persalinan masih lama. Maklum sebagai pasangan muda, Jati dan istrinya, kurang begitu paham akan pertanda melahirkan, sementara usia kandungan istrinya sudah menginjak 9 bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga diputuskan bahwa sang istri harus menjalani rawat inap karena prediksi dokter tidak lama lagi ia akan segera melahirkan. Perasaan lega bercampur cemas bisa terlihat di wajah Jati, lega karena ia tidak perlu bolak-balik pulang dari tempat tinggalnya ke rumah sakit, namun tetap cemas karena masih harus menunggu proses persalinan sang istri.

Dengan setengah berlari, aku amati Jati berputar mencari lokasi Automated Teller Machine (ATM). Tentu saja rumah sakit bukan teller bank, tapi siapa yang bisa menyangsikan kalau rumah sakit zaman sekarang tak butuh ATM, persisnya kartu ATM? Semua karena peraturan rumah sakit mengharuskan pasien memberikan uang jaminan sebelum bisa mendapatkan pelayanan rawat inap. Setelah mencari sekira 10 menit akhirnya Jati menemukan ATM dan mengambil uang sebagai jaminan.

“Ting” suara pintu lift lantai II terbuka. Lift terletak tepat di depan tempat tunggu sebelah pojok kanan ruang bersalin yang berhadapan dengan ruang operasi. Di tempat tunggu tersebut terdapat empat kursi panjang yang tertata rapi dan tergantung sebuah kipas dengan ukuran yang cukup besar. Sungguh keberadaan kipas tersebut sebenarnya tidak begitu dibutuhkan pikirku dikarenakan gerimis ditambah hembusan angin yang cukup kencang membuat suhu di tempat tunggu latai II sudah dingin. Terlalu dingin untuk badan Jati yang cukup kecil. Dengan gelisah Jati mondar-mandir tak karuan di depan lift. Iya, adegan seperti ini sering ia lihat di televisi, adegan dimana sang aktor melakukan hal yang sama seperti yang Jati lakukan saat ini. Konyol katanya, namun tidak pernah terbayangkan bahwa sekarang ini dia melakukannya.

Setengah jam berselang petugas rumah sakit keluar dan menyebut nama “Keluarga Ibu Sekar” dengan setengah mengantuk, pak Slamet, keluarga pasien yang disebut namanya menghampiri petugas dan mendapat penjelasan bahwa Sekar, Anaknya, yang juga menjalani proses persalian, harus menjalani operasi dikarenakan kehabisan air ketuban. Pak Slamet dan Jati merupakan dua orang yang sama-sama sedang menunggu kelahiran keluarga baru mereka. Pak Slamet menunggu kelahiran cucu pertamanya sedang Jati menunggu kelahiran anak pertamanya. Dan dari obrolan dengan pak Slamet, Jati mendapat informasi bahwa untuk operasi kelahiran keluarga pasien terlebih dahulu harus menebus obat serta peralatan tambahan yang diperlukan yang bernilai sekira 1,5 juta rupiah belum lagi biaya operasi yang secara total bisa mencapai 7 juta rupiah dan harus dilunasi bila ingin segera pulang dari rumah sakit.  Jumlah yang sangat banyak bagi Jati. Karena sebagai karyawan kecil, gaji serta tabungan yang tidak seberapa tak cukup untuk menutup biaya tersebut. Mobil tua yang ia gunakan untuk mengantar istrinya kerumah sakit tadi hanya mobil pinjaman dari pemilik kontrakan dimana ia tinggal.

Tidak bisa ditutupi raut muka Jati kelihatan sangat cemas. Pikirannya melayang melamunkan  masalah biaya yang harus ditanggungnya. Akan tetapi kecemasan soal biaya adalah jenis kecemasan yang masih kalah merisaukan ketimbang kecemasan lain yang lebih menakutkan: Bisakah anak serta istrinya lahir dengan selamat? Bisakah istrinya melahirkan dengan normal? Jati terdiam dan tampak merenung. Menurutnya rumah sakit adalah tempat terbaik untuk mengerti betapa tipisnya jarak antara harapan dan kecemasan. Itulah sebabnya kecemasan dan harapan bertumbukan dengan hebatnya di rumah sakit. Dia berharap istri serta anaknya selamat, tapi dia juga tidak bisa berhenti berfikir: cukupkah uang yang saya punya untuk membiayai perawatan selama di rumah sakit?

Rumah sakit yang dilengkapi sederet suster yang telaten, dokter yang cakap, dan alat medis yang komplit barangkali adalah tempat terbaik merawat orang sakit. Siapa pun layak untuk berharap kesembuhan di tempat ini, melebihi tempat-tempat yang lain. Tapi, semua orang juga tahu, rumah sakit adalah tempat di mana orang-orang sakit yang masuk stadium gawat dirawat. Orang seperti keluarga Jati, yang tak punya asuransi kesehatan dan tak cukup kaya, tidak akan sembarang masuk rumah sakit. Jika sakit sudah betul-betul tak tertanggungkan, rumah sakit barulah didatangi. Di sinilah ironi itu tergelar. Rumah sakit bukan hanya tak bisa sepenuhnya meyakinkan para pasien dan keluarganya, tetapi justru membuat kecemasan itu menjadi lebih berlipatganda.

Jati sedang cemas, Aku juga cemas tak pernah aku bercerita  dengan begini cemasnya. Sungguh karena aku juga sedang menunggu istriku yang juga menjalani proses persalinan tepat di sebelah Jati

Lebih baik aku juga segera berdo’a!

Surabaya, 20 Desember 2009

Untuk Febtika dan Lintangjati



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s